Dibalik Dinding PIG, Tokoh Geopark Maros-Pangkep Gemakan Cinta Warisan Dunia

 

Acara Tapping RRI Net mengenai Geopark Maros-Pangkep.
Muhammad Jufri (baju putih) di Pusat Informasi Geologi pada acara tapping RRI Net (05/01/22).

AMBAE.co.idPangkep. Pusat Informasi Geologi (PIG) Geopark Maros-Pangkep (GMP) yang beralamat di Jalan Andi Mandacingi, Kelurahan Tumampua, Kecamatan Pangkajene Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) sontak ramai pada Rabu (05/01/22) sejak pagi hingga siang.

Suara menggema di dalam ruangan yang berlokasi di belakang Rumah Jabatan Bupati Pangkep karena dua orang sedang mengisi tapping acara radio. Adalah Muhammad Jufri yang kini menjabat Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan (Disbudpar Sulsel).

Satunya lagi yakni General Manager Badan Pengelola Geopark Nasional Maros-Pangkep, Dedi Irfan. Keduanya merupakan tokoh penting pengembangan Geopark Nasional Maros-Pangkep menuju UNESCO Global Geopark (UGG).

Bahwa dalam waktu dekat ini, dijadwalkan akan menerima kedatangan Tim Asesor dari UNESCO. Yang mana jadwal resmi harusnya pada Juni 2021 lalu, namun tertunda karena Pandemi COVID-19.

Baik Jufri maupun Dedi, serentak mengajak masyarakat khususnya yang ada di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep untuk senantiasa mencintai kawasan geopark itu yang akan segera dicatatkan menjadi warisan dunia oleh UNESCO. Demikian halnya masyarakat Indonesia pada umumnya agar ikut menjaga, melestarikan sekaligus mengembangkan dan memajukan GMP melalui pemanfaatan yang bernilai positif maupun untuk tujuan edukasi, konservasi, penelitian, dan kajian.

Mengingat pengusulan UGG dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia, nantinya menjadi milik dan tanggung jawab dunia internasional. Jufri misalnya menyebutkan bahwa masyarakat harus mengetahui lebih dalam seperti apa dan bagaimana potensi pariwisata yang menyelimuti kawasan geopark.

“Kita ada kerja sama dengan sekolah-sekolah, jadi seperti guru-guru Sejarah di sekolah kita dorong untuk mengajak siswa-siswinya mengunjungi destinasi wisata yang ada di Sulawesi Selatan. Salah satunya ini ada di kawasan Geopark Nasional Maros-Pangkep, sebagai contoh di kawasan ini terdapat destinasi wisata Bantimurung dengan penangkaran kupu-kupunya, Leang-leang yang menawarkan pemandangan serta bahan ajar bebatuan karst, lalu ada Rammang-rammang, gua-gua dan masih banyak lagi,” kata Kadisbudpar Sulsel yang bergelar Professor.

Melalui Program Siaran Obrolan Budaya RRI Net itu, Prof Jufri menegaskan, masyarakat setempat seharusnya lebih memahami potensi kepariwisataan yang tersimpan di geopark. Sehingga akan lebih siap menyambut wisatawan baik itu wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Ada banyak hal bisa dilakukan untuk mendukung sektor pariwisata. UKM-UKM kita menyiapkan cinderamata, kuliner-kuliner maupun penyiapan homestay berstandar bagi wisatawan yang akan menginap,” pungkasnya.

Ditanya soal kesiapan menyambut Tim Asesor, Jufri mengklaim telah sangat siap dengan skenario yang disusun oleh BP GNMP. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, begitu pun OPD di tingkat provinsi.

Read:  Asisten Bidang Ekbang Buka Musrenbang Anak Bantaeng 2019

Sementara Dedi bersama jajarannya di BP GNMP juga memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan stakeholder. Diantaranya PT Semen Tonasa, PT Semen Bosowa, Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulsel, dan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.

“Inshaa Allah bisa kita buktikan, tinggal kita menunggu kehadiran tim UNESCO, ini juga terus kita koordinasikan dengan Pemkab. Pada waktunya nanti, semua syarat-syarat itu bisa kita tunjukkan disertai dengan lebih banyak lagi bukti-bukti,” terang Prof Jufri.

Ditambahkan Dedi, tidak afdhal jika ke Sulsel lantas belum menyambangi Geopark Maros-Pangkep. Terlebih jika mereka itu para Arkeolog, Antropolog, dan Geolog.

Read:  Penuhi Syarat Ini Untuk Jadi Duta Wisata

Dia membandingkan umat Islam yang menjadikan Kabbah, Tanah Haram di Makkah, Saudi Arabia sebagai kiblat. Umat Kristen menjadikan Yerusalem sebagai kota suci.

“Tidak sah sebagai Arkeolog dunia kalau tidak datang ke Maros dan Pangkep. Pada saatnya ini dicatatkan sebagai UNESCO Global Geopark, serta merta Arkeolog-arkeolog dunia menjadikan Maros-Pangkep ini sebagai kiblat arkeologi,” tegas Dedi.

Karenanya, turut mengajak masyarakat menanamkan rasa memiliki. Ikut belajar, mengambil peran, minimal berkunjung dan mensosialisasikan ataupun mempromosikan Geopark Maros-Pangkep dengan segala potensinya melalui media sosial.

“Kita harus siap jadi bagian dari masyarakat dunia. Bagaimana kami mengajak peran anak muda untuk terlibat lebih banyak mengenali dan memiliki kawasan Geopark Maros-Pangkep ini. Sering-seringlah datang mengunjungi kawasan kita,” imbuhnya.

Di kawasan itu, terdapat lukisan dinding tertua di dunia. Berusia lebih dari 40 ribu tahun, menjadi kebanggaan Maros dan Pangkep, kebanggaan Sulsel, kebanggaan Indonesia hingga dunia karena peradaban manusia yang tertua ada di dua daerah itu.

Read:  Liestiaty F Nurdin Salurkan Mukena Kepada Korban Banjir Jeneponto-Bantaeng

Sedangkan karst yang membentang di dua daerah tersebut hingga kepulauan spermonde merupakan karst terluas kedua di dunia. Ciri khasnya, menjulang tinggi hingga disebut sebagai tower karst, bahkan ada batuan yang dulunya berada jauh di bawah permukaan laut dapat dilihat dengan mata telanjang.

“Di bantimala ada batuan berumur 500 juta tahun. Pernah berada di 6000 meter di bawah permukaan yang kemudian tersingkap ke atas permukaan saat ini,” jelas Dedi.

Potensi-potensi itu memperkuat bagaimana proses pembentukan daratan, utamanya Pulau Sulawesi yang juga dikenal dengan nama Celebes. Dedi menyatakan, untuk mengetahui Sulawesi terbentuk dari zaman batu hingga sekarang, maka datang, lihat, dan cermati Bantimala.

Pun telah banyak riset dilakukan oleh para Arkeolog dunia mengenai site-site yang ada di Geopark Maros-Pangkep. Dari total site itu, Dedi mengatakan hanya 31 diantaranya yang didaftarkan dan diusulkan untuk menunjang UGG.

Lalu di dalamnya, dibagi lagi untuk ragam pemanfaatan. Tidak semua dibuka untuk umum sebagai destinasi wisata, ada pula yang khusus untuk edukasi dan konservasi.

Untuk diketahui, tapping yang melibatkan Jufri dan Dedi itu akan disiarkan ke seluruh wilayah Indonesia melalui RRI Net, rri.co.id, RRI Play Go dan jejaring layanan RRI (Radio Republik Indonesia). Termasuk RRI Makassar yang mengudara pada frekuensi 92,5 FM. (*)