Prof Jufri Beberkan 3 Point Untuk Menguatkan Parekraf

 

Materi Prof Jufri Digitalisasi Parekraf.
Prof Jufri (kiri) memaparkan materi digitalisasi pariwisata dan ekonomi kreatif di Max One Hotel, Makassar (17/11/21).

AMBAE.co.idMakassar. Berbicara di hadapan perwakilan 24 Kabupaten dan Kota, Prof Jufri menekankan 3 hal utama untuk memajukan pariwisata dan ekonomi kreatif (Parekraf). Terutama pariwisata dan ekonomi kreatif di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Lebih khusus lagi terkait kualitas dan kapabilitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang menjadi pengelola, pelaku, dan juga pelaksana. Ada bidang spesifik yang mesti didalami menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Provinsi Sulsel itu untuk bisa bersaing.

Apalagi, era industri 4.0 menuju 5.0 telah mereduksi kebiasaan berinteraksi pada cara-cara manual dan konvensional ke arah otomatis dan serba digital. Sehingga perlu penguatan lebih dini untuk memperbaharui kompetensi diri agar lebih meningkat lagi.

“SDM Parekraf kita harus, kalau bisa Saya katakan sunnah muakkad atau mungkin malah wajib, bahwa teman-teman yang bergelut di dunia kepariwisataan dan ekonomi kreatif, ayo tingkatkan kualitas kemampuan kita, keahlian yang kita miliki di-upgrade, di-update,” tegas Jufri.

Saat itu dia menjadi Narasumber di hari kedua Rapat Fasilitasi Pengembangan Ekonomi Kreatif yang dihelat Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Sulsel. Mengusung tema “Kebijakan Ekonomi Kreatif Berbasis Digital di Provinsi Sulawesi Selatan”, rapat itu dilangsungkan di MaxOne Hotel, Jalan Taman Makam Pahlawan Nomor 5, Tello Baru, Kecamatan Panakkukang, Kota Kota Makassar.

Tidak perlu melakukan Clean Install, upgrade dan update yang dimaksudkan Jufri adalah dengan mengikuti pelatihan ataupun workshop secara berkesinambungan. Semisal untuk profesi fotografer, tidak berpuas diri dengan keterampilan yang sudah dimiliki saat ini karena peradaban kian maju pesat.

Read:  Nurdin Abdullah Yakin Stadion Mattoanging Berdampak ke Sektor Pariwisata

Tentu kata mantan Kadisdik (Kepala Dinas Pendidikan) Sulsel itu, teknologi sangat mempengaruhi perubahan tatanan kehidupan. Masyarakat cenderung mencari dan menggunakan jasa fotografi jika sang fotografer handal memainkan lensa dan kameranya.

“Jadi SDM kita ini mesti terus belajar, bisa saja mengasah kemampuan secara otodidak, itu juga tidak salah karena umumnya jam terbang menempa sesorang menjadi yang terbaik. Kami di Disbudpar Sulsel juga senantiasa memfasilitasi teman-teman dengan workshop fotografi, fashion, desain produk, dan pelatihan lainnya. Minggu lalu kita ada workshop untuk fotografi dan beberapa yang lainnya, Alhamdulillah banyak yang ikut, Inshaa Allah kita berharap ada implikasi dari workshop tersebut,” pungkasnya.

Hal kedua terkait digital marketing, keterampilan yang mumpuni ditunjang dengan kemampuan melakukan promosi. Bicara promosi, lagi-lagi metode manual makin ditinggalkan, bahkan calon konsumen beralih begitu cepat ke dunia maya karena diyakini lebih user friendly dengan akses yang cepat.

“Manfaatkan promosi digital lewat media sosial. Era yang serba terdisrupsi teknologi saat ini, tidak lagi menargetkan milenial. Kalangan dewasa hingga orang tua, anak-anak pun demikian, tidak mengenal usia, semua telah masuk ke dunia digital. Dari bangun sampai tidur dan bangun lagi, orang-orang sangat dekat dengan perangkat teknologi seperti ponsel, komputer, tablet, laptop, jam tangan,” jelasnya.

Jika ini dilakukan, perlahan dapat meredam ungkapan “Jangan sampai ponselmu lebih pintar darimu kawan” atau “Jangan Bodoh karena ponsel lebih pintar”. Berikutnya, masuk ke arah digitalisasi destinasi wisata dengan menghadirkan informasi pariwisata lewat sistem operasi Android, iOS, Microsoft, dan Linux.

“Berurut ya, mulai meng-upgrade diri, lalu melakukan promosi digital secara umum dan terakhir kita masuk ke sektor pariwisata yang menjadi fokus akrivitas kita. Saya kira untuk sektor lainnya, profesi apapun itu, sekaranglah saatnya kita berbenah, ikuti perkembangan zaman bukan menjadikannya slogan semata,” imbuhnya.

Di kesempatan itu pula, Jufri yang memaparkan materi “Digitalisasi pariwisata dan ekonomi kreatif untuk sulawesi selatan lebih maju” menguraikan data statistik yang disadur dari Data Reportal. Indonesia memegang peran cukup besar sebagai penyumbang interaksi digital di dunia.

Read:  KadisBudPar SulSel Kunjungi Kota Pariaman: Event Roller Skating Patut Diapresiasi

Tercatat hingga Oktober 2021, seperti dilansir dari laman Wikipedia, Indonesia menempati posisi keempat setelah China, India, dan Amerika Serikat. Populasi pengguna internet Indonesia tembus di angka 76,8 persen yang merujuk hasil Polling Indonesia oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia).

“63 persen dari jumlah keseluruhan kegiatan travelling saat ini dicari, dipesan, dan dijual online. Lebih dari 200 ulasan travelling per menitnya sudah diposting di TripAdvisor,” terang Jufri.

Angkanya mencengangkan kata dia, data statistik per-Januari 2021 menunjukkan 170 juta pengguna internet aktif ber-media sosial atau sekitar 61,8 persen dari 274,9 juta populasi penduduk Indonesia. Sementara pengguna internet Indonesia sebanyak 202,6 juta atau sekitar 73,7 persen.

Read:  Baru Sejam Dibuka, Pengunjung PRS 2021 Serbu Stand Disbudpar Sulsel

Uniknya lagi, penggunaan koneksi seluler melampaui jumlah populasi penduduk Indonesia hingga 125,6 persen dengab besaran 345,3 juta. Terjadi karena ada kemudahan mendapatkan informasi, ditambah Pandemi COVID-19 yang memaksa orang-orang lebih banyak berdiam di rumah selama hampir 2 tahun sejak Maret 2020.

“Pertanyaannya, apa yang mesti kita lakukan agar wisatawan berkunjung ke Sulsel. Maukah konsumen membeli produk kita? terjawab dengan digital, eksositemnya dibuat rapi. Kita mesti sepakat, industri kreatif punya andil, kontribusinya luar biasa dalam mengembangkan dan memajukan sektor pariwisata,” kunci Jufri dalam paparannya yang dipandu Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, H Muhammad Ichsan Mustari.

Supaya wisatawan ke destinasi wisata, buatlah kata Prof Jufri sesuatu yang menarik. Ikonik, unik, dan unggulan dari destinasi wisata itu ditonjolkan. Begitu pun produk ekraf, calon konsumen akan mencari apa yang berbeda dari produk tersebut dan tidak dimiliki produk lainnya.

Di hari kedua rapat itu, Ketua APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) Sulsel juga tampil sebagai pembicara. La Tunreng memaparkan materinya bertajuk “Digitalisasi UMKM Untuk Memperkuat Ekonomi Kreatif”.

Sedangkan di hari pertama pada Selasa, 16 November 2021, panitia menghadirkan Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi Sulsel, dengan materi “Kebijakan Pengembangaan Ekonomi Kreatif di Sulawesi Selatan”. Ditutup materi kedua oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel. (*)