Universitas Tadulako Utus Mahasiswa FT-Arsitektur Teliti Gedung Mulo

 

Untad ke Gedung Mulo.
Agung Miftha Usman (kanan) dan rekannya berfoto di Gedung Mulo (15/10/21).

AMBAE.co.idMakassar. Universitas Tadulako (Untad) mengutus mahasiswa Fakultas Teknik Arsitektur (FT-Arsitektur) melakukan penelitian di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Jumlahnya mencapai 108 orang dari Program Studi (Prodi) yang sama, yang mana sedang menempuh studi Semester VII menuju Strata-1 (S1).

Ratusan mahasiswa itu tiba di Gedung Mulo yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 23, Kota Makassar, Sulsel pada Jum’at pagi (15/10/21). Tak lain adalah lokasi berkantornya para ASN dan PPPK jajaran Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Provinsi Sulsel.

“108 orang mahasiswa dengan Saya, ditambah 1 Dosen, Ibu Andi Jiba. Hari ini kita survei Gedung Mulo di Makassar ini,” ungkap Ketua Panitia dari FT-Arsitektur Untad, Agung Miftha Usman.

Ditambahkan bahwa penelitian yang dilakukan fokus pada tema heritage. Bangunan-bangunan warisan budaya yang ada di Sulsel, khususnya Makassar menjadi obyek penelitian.

Delapan titik dikunjungi, erat kaitannya dengan sektor pariwisata, seni, dan budaya. Masing-masing Gedung Mulo, Gedung Kesenian Sulsel – Societeit de Harmonie, Monumen Mandala, Pengadilan Negeri Makassar Klas I A Khusus, Balai Kota Makassar, Gereja Katedral Makassar, dan Museum Kota Makassar,

Daya Tarik Wisata (DTW) di Sulsel itu memiliki struktur bangunan yang cukup tua. Diantaranya merupakan peninggalan era kolonial Belanda.

“Sudah ke (Benteng) Rotterdam, terus Balai Kota Makassar, Museum Kota Makassar juga, dan (Gereja) Katedral kemarin. Hari ini Gedung Mulo dan Pengadilan Negeri, itu yang masuk list (daftar) penelitian, kita juga diajak ke Munomen Mandala dan Gedung Kesenian,” urai Agung.

Metode penelitian selama KKL (Kuliah Kerja Lapangan) dijelaskan Agung dengan mengumpulkan data, informasi dan dokumentasi. Tidak bertumpu pada sejarah semata, tapi menitikberatkan pada bangunan itu sendiri sebagaimana konsep arsitektur yang membuatnya berdiri megah serta bertahan hingga kini.

“Jadi temanya arsitektur heritage, bangunan-bangunan cagar budaya, fokus penelitian kami pada struktur dan cara konservasinya, rancangan juga. Teman-teman itu lalukan pengukuran, mendokumentasikan, juga ada diskusi untuk mengetahui sejarahnya dan informasi dari bangunan ini,” terangnya.

Sekembalinya ke Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), akan dipresentasikan di kampus yang dipimpin Rektor Mahfudz. Selanjutnya melakukan seminar dan outputnya sendiri kata dia berupa buku.

Read:  Disbudpar Sulsel Wajibkan Senam, Sanksi Menanti Jika Abstain

Paling mencolok dari semua Lokus (Lokasi Fokus) yang diteliti, bangunan heritage peninggalan Belanda tercermin dari model dan struktur jendelanya. Begitu pun desain bangunannya yang cenderung menjulang, lebih tinggi dibanding bangunan pada umumnya.

Sehingga terkesan megah, kokoh, dan penuh kharismatik. Itu juga yang menjadikannya khas sebagai benteng pertahanan di samping sebagai hunian dan fasilitas publik bagi Belanda kala itu.

“Kenapa kita pilih Sulsel? karena ini daerah yang memenuhi syarat berdasarkan temanya kita, terdekat juga, dan terbuka. Tadinya kan Bandung, tapi Bandung masih tutup (kunjungan), makanya kita ke Makassar, Sulsel,” ujarnya.

Perjalanan dengan moda transportasi darat selama sehari semalam dari Palu dengan bus pariwisata diakuinya tidak sia-sia. Hasil penelitian nantinya diharapkan dapat menjadi acuan dalam melakukan perencanaan dan perancangan di masa mendatang.

“Tetap dipertahankan bentuknya supaya menarik, karena dari beberapa kunjungan itu kurang terawat bangunannya. Padahal, ini Saya bicara dari segi arsitekturnya, bangunan-bangunan itu aset, kenapa Pemerintah tidak peka untuk itu,” harap pemuda kelahiran Ternate itu.

Mahasiswa lainnya yakni Ryan Ramadhan menyampaikan kepada AMBAE bahwa penelitian dilakukan terhadap banyak hal. Seperti apa dan bagaimana fungsi bangunan itu di masa lalu dan saat ini.

“Base structure-nya kita lihat dan kumpulkan datanya. Nilai-nilai sejarahnya dicatat juga, jendela dan pintunya misalnya mungkin punya filosofi-filosofi,” tutur Ryan.

Sebagai mahasiswa arsitektur, baginya penting mengetahui dan memahami seluk-beluk bangunan warisan budaya untuk dikombinasikan dengan perancangan moderen. Contoh konkrit ditunjukkan, pilar bangunan Gedung Mulo terlihat besar dan lebih lebar, apalagi pondasinya yang kuat, selama ratusan tahun berdiri, Gedung Mulo masih tampak seperti beberapa tahun jika disandingkan dengan bangunan saat ini.

“Ini kan pelajaran penting, dari data-data ini kita pahami lebih dalam nantinya. Kebanggaan juga bagi Saya, 2010 Saya sekolah 1 bulan di SD di sini, ternyata perkembangan Sulsel kencang, apalagi pariwisatanya,” paparnya.

Mahasiswa yang satu ini punya kedekatan emosional dengan Sulsel. Orang tuanya berasal dari suku Bugis, tepatnya Kabupaten Bone, serta salah satu daerah dari suku Mandar yang ada di Sulbar (dulu masih wilayah administratif Sulsel).

“Saya orang sana, kalau orang tua Bugis Bone dan ada juga Mandarnya. Saya sempat sekolah di sini 1 bulan pas (tepat) tahun 2010, salah satu SD di sini. Kita tiba Senin lalu, rencana pulangnya hari Minggu,” tutupnya. (*)