Geopark Maros-Pangkep Siap Ikuti Assesstment UNESCO

 

Kemal Redindo Syahrul Putra (kanan) memimpin Rakor di Gedung Mulo, Makassar (07/10/21).

AMBAE.co.idMakassar. Geopark Maros-Pangkep dalam waktu dekat akan menjalani penilaian (assessment) dari UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization). Di mana digadang-gadang masuk menjadi UNESCO Global Geopark (UGGp) di dunia.

Menyongsong assessment, persiapan terus dilakukan, melibatkan para pemangku kepentingan lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros dan Pangkep.

Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Provinsi Sulsel kemudian memfasilitasi diadakannya Rapat Koordinasi (Rakor) di Gedung Mulo, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 23 Kota Makassar pada Kamis pagi (07/10/21). Menghadirkan unsur Badan Pengelola Geopark Nasional Maros-Pangkep (GNMP), Pimpinan OPD SulSel, Maros dan Pangkep serta stakeholder terkait diantaranya PT Telkomsel, PT Semen Tonasa, PT Semen Bosowa dan BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Sulsel.

Kemal Redindo Syahrul Putra selaku Sekretaris Disbudpar Sulsel tampil memimpin Rakor. Tampak pula General Manager GNMP, Dedy Irfan dan Asisten II Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Kesejateraan, Sekretariat Daerah Pemprov Sulsel, HM Ichsan Mustari.

Dindo, sapaan akrabnya, meyakinkan kesiapan menghadapi assessment, pihaknya akan senantiasa berkoordinasi lintas sektor. Karenanya, pertemuan itu untuk mematangkan sejumlah koordinasi sebelumnya di beberapa tempat terpisah.

“Inshaa Allah kita siap, kolaborasi dan sinergitas tidak bisa dilupakan untuk memberikan hasil maksimal. Siapa kerja apa dan bagaimana, lalu seperti apa potensi dan kemampuannya kita bahas komplit hari ini”, ungkapnya.

Adapun kekurangan yang masih perlu dibenahi dan disempurnakan, butuh peran aktif semua pihak. Semisal untuk virtual assessment, perlu penyiapan studio lokal serta perangkat pendukung untuk pengambilan gambar.

Jika Pemerintah Kabupaten Maros dan Pangkep memiliki peralatan cukup, maka seyogyanya digunakan nantinya untuk mendukung proses tapping ataupun recording dan live show. Begitupun Telkomsel, Tonasa, Bosowa dia minta mendukung penuh rangkaian assessment.

“Apalagi Bosowa dan Tonasa ini kita harapkan memberi paparan atas peran serta sebagai pihak swasta dalam rangka pengembangan Maros Pangkep Aspiring Unesco Global Geopark (MPAUGGp). Jadi masing-masing akan cek terlebih dulu kemampuan supportingnya, kalau ada peralatan yang di luar ini, tanggung jawab provinsi”, tegasnya.

Assessment UNESCO nantinya akan menerapkan metode hybrid. Tim penilai menyaksikan Live Show dan Recording kawasan GNMP secara virtual dari luar negeri.

Sementara itu, UNESCO bakal mengirimkan pula secara terbatas utusannya melakukan assessment lapangan. Mengingat Pandemi COVID-19 di Indonesia pada umumnya masih bervariasi di level 1 hingga 4 masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Tim lapangan UNESCO itu didampingi Bappenas RI mengunjungi spot-spot kawasan GNMP. Berikut akan mengarahkan pengambilan gambar, Dindo mengharapkan Telkomsel memastikan kestabilan jaringan di seluruh kawasan.

“Semua konten, materinya, om Dedy yang siapkan ya. Untuk Telkomsel, mohon jaringannya mungkin bisa dipastikan stabil, normal terutama selama pengambilan gambar baik Live dan juga saat Tapping”, imbuhnya.

Zul Firman Syah, perwakilan Telkomsel menjelaskan, COMBAT (Compact Mobile BTS) akan dipasang guna mengantisipasi kemungkinan down signal. Sedangkan pada area minim jaringan, akan ditempatkan repeater.

“Kalau bisa koordinatnya di-share ke kami, sehingga kami akan lakukan assessment juga, kami sendiri akan keluarkan kekuatan signal yang cukup di koordinat tersebut. Jika memang ada yang kurang, kami akan pasang penguat, repeater dan e-macro atau mobile BTS sekelas COMBAT”, tutur Zul.

Ditambah pernyataan Marley R dari Telkomsel, pihaknya cukup diberikan ruang untuk menempatkan peralatan pemguat sinyal dimaksud. Telkomsel berharap dipermudah dalam hal perizinan penggunaan lahan sementara dan daya listrik.

“Sekelas repeater buth lahan tidak lebih 1×1 meter, untuk coverage lebih luas butuh minimal 5×5 Meter, seandainya kita memobilisasi mobile BTS. Kalau sekelas COMBAT seperti di Rammang-rammang butuh daya 3000 Watt, tapi untuk repeater, di bawah 1000 Watt”, jelasnya sembari menunjuk AC Split Indoor 5 PK dan speaker berukuran sedang.

Terkait pengambilan gambar itu, Dedy memaparkan, diperlukan beberapa peralatan standar dalam dua set. Bakal menunjang tim kerja lapangan di Kabupaten Maros dan Pangkep agar lebih maksimal tanpa tumpang tindih.

“Harapan kita, ada studio yang siap ditempati tapping di Maros dan Pangkep, indoor dan outdoor agar resolusi dan juga mengantisipasi penyesuaian kondisi cuaca. Untuk studio, di Maros studionya di Maros, begitu juga di Pangkep studionya di Pangkep”, kata Dedy.

GM BP GNMP itu membeberkan durasi pengambilan gambar selama assessment. Dia pun menghimbau agar waktu benar-benar dimanfaatkan untuk persiapan ataupun loading peralatan sejak pagi hingga jelang siang, praktis tengah hari hingga sore optimal untuk Live Show dan Reccording.

“Hari pertama 5 jam kita dikasi waktu, durasi dibatasi 45 menit per-spot. Hari kedua 6 jam karena ada pembahasan dossier”, ujarnya.

Kembali ditekankan Dedy agar Dinas Kominfo setempat memfasilitasi assessment. Termasuk pelibatan Maros TV dan Pangkep TV sebagai media publikasi yang diotorisasi Pemerintah.

Dengan begitu, Dedy yakin jika semua bekerja sesuai tugas pokok dan fungsinya, niscaya assessment UNESCO berjalan lancar. Naiknya status Geopark Maros-Pangkep dari Nasional ke Global menurutnya adalah kebangaan milik bersama masyarakat dan pemerintah.

Diketahui sejak 2017 sudah menyandang predikat National Geological Park atau Maros-Pangkep National Geopark. Lingkup areanya mencakup 223.629 Ha wilayah daratan Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkep (Pangkajene Kepulauan) serta 88.965 Ha Kepulauan Spermonde.

Wikipedia sendiri mencatat MPAUGGp seluas 5.058 Km², terdiri dari 2.243 Km² darat dan 2.815 Km² laut. Memiliki 37 geosite, tower karst di kawasan itu terbesar kedua di dunia setelah kawasan karst Shilin Yi yang ada di China, tepatnya di Provinsi Yunnan. (*)