Kole Sawangan, Desa Wisata di TaTor Mesti Berdayakan Masyarakat

 

Jajaran DisBudPar SulSel meninjau kondisi lapangan Desa Wisata Kole Sawangan di Kabupaten Tana Toraja (09/09/21).

AMBAE.co.idTana Toraja. Sama halnya dengan Desa Wisata Ara di Kabupaten Bulukumba dan Desa Wisata di Kabupaten Toraja Utara, Bruno S Rantetana tak henti-hentinya menekankan betapa pentingnya memberikan ruang seluas-luasnya kepada masyarakat.

Memberi peran dan kesempatan untuk ikut terlibat mengembangkan serta memajukan Desa Wisata (Dewi). Hal itu disampaikan langsung kepada warga masyarakat di sekitar Dewi Kole Sawangan, Kamis (09/09/21).

Berlokasi di Kecamatan Malimbong Balepe, Kabupaten Tana Toraja (TaTor), dewi itu masuk nominasi calon peraih ADWI (Anugerah Desa Wisata Indonesia) tahun 2021. Yang mana diselenggarakan sejak beberapa bulan lalu oleh KemenParEkRaf/BaParEkRaf RI (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Ketua Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia).

“Kita berharap supaya masyarakat diberdayakan, dilibatkan seoptimal mungkin untuk majunya ini desa wisata. Pemerintah tugasnya apa, tanggung jawabnya menyediakan sarana dan prasarana, tapi kalau masyarakat lebih banyak inisatif sebelum Pemerintah masuk, ini justru lebih bagus”, paparnya.

Nilainya jauh lebih besar dibanding hanya menunggu sentuhan Pemerintah. Apalagi Dewi Kole Sawangan menyimpan pesona alam dan budaya serta ragam kerajinan masyarakat desa yang tersebar di 4 dusun yakni Sawangan, Tallumanuk, Patane dan Supate.

“UKM bertumbuh di desa ini tanda bangkitnya ekonomi kreatif. Wisatawan datang tidak sekedar foto-foto tapi menghabiskan uangnya dengan kuliner misalnya, pulang membawa kerajinan khas Tana Toraja, khususnya dari Desa Wisata Kole Sawangan”, kata Kabid PSDP (Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata) DisBudPar SulSel (Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan) itu.

Untuk diketahui, UKM dapat menyajikan kerajinan tenun, manik-manik, bambu dan produk kopi Sado’ko Toraja untuk dipasarkan di Dewi Kole Sawangan maupun di area lainnya dalam wilayah desa tersebut. Berikutnya bagaimana mengatur kesemua itu agar wisatawan yang berkunjung tidak kebingungan mencari tahu ataupun justru tidak memberikan nilai lebih bagi masyarakat karena jalan sendiri-sendiri.

“Saya membawa serta 2 Kepala Seksi (Kasi) di Bidang kami di Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan. Beliau ini yang bersentuhan langsung teknis desa wisata dan pengembangan sumber daya manusia di sektor pariwisata”, ungkapnya.

Memang benar adanya, Bruno didampingi Kirana Halim selaku Kasi PKSDMP (Peningkatan Kompetensi SDM Pariwisata) dan M Ibrahim Halim selaku Kasi PM (Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat), serta beberapa staf. Ditambah beberapa orang staf, tiba di TaTor usai mengunjungi Dewi Lembang Nonongan di Kabupaten Toraja Utara (TorUt) sehari sebelumnya.

“Desa Wisata Kole Sawangan oleh Kementerian memberinya nilai 21,91 dengan kategori Berkembang setelah lolos di babak ketiga 50 besar. Tantangannya, bisakah kita naikkan nilainya, kenapa tidak kalau kenyataan di lapangan lebih baik daripada dokumen yang terkirim”, terang Bruno.

Di samping Kole Sawangan, TaTor juga mengirimkan 10 Dewi lainnya sebagai peserta ADWI 2021. Masing-masing Uluway, Tumbang Datu, To’buangin, Tiroan, Simbuang Batutallu, Sillanan, Saluallo, Panorama Alam, Lemo Menduruk Malimbong Balepe dan Bebo.

“Masuk 50 besar karena mengalahkan point desa wisata lainnya di Indonesia, pertama itu sebanyak 1831 peserta. Tapi kan penilaian t juri Kementerian di Jakarta hanya melihat berkas yang diupload di jadesta.com“, tandasnya.

Sementara kata dia, setelah 50 besar ini tim akan turun ke lapangan. Mudah-mudahan harap Bruno, Sandiaga Salahuddin Uno (MenParEkRaf/Ketua BaParEkRaf RI) bisa mengunjungi ketiga nominator dari SulSel.

Di samping menilai dan memberi masukan, moment itu bisa menaikkan pamor desa wisata dan daerah yang dikunjungi di di kancah nasional hingga level internasional. Dia pun meminta pengelola, dalam hal ini Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) terus membenahi kekurangan yang ada.

Partisipasi masyarakat sudah terlihat, tinggal dinaikkan statusnya. Hal lain perlu diperhatikan bagaimana Dewi Kole Sawangan ditunjang dan didukung oleh dewi maupun Desa/Kelurahan di sekitarnya.

“Amenitasnya bagaimana, aksesibilitasnya memadaikah, terus atraksi apa yang mendukung. Kunci suksesnya pariwisata, masyarakat sejahtera, wisatawan puas dengan jasa pariwisata yang kita berikan”, kunci Bruno.

Pada kesempatan itu, turut hadir rombongan dari TaTor. Diantaranya jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Anggota Pokdarwis dan Ketua HPI Toraja. (*)