Siapkan Video Pariwisata Soppeng, DisBudPar SulSel: Hak Cipta Harga Mati

 

Rapat perdana Pembuatan Video Profil Pariwisata Kabupaten Soppeng di Gedung Mulo Makassar (08/09/21).

AMBAE.co.idMakassar. Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan (DisBudPar SulSel) kembali menggelar rapat bersama dengan rekanan yang akan menggarap pembuatan video profil di Kabupaten/Kota di SulSel. Dilangsungkan di Gedung Mulo, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 23, Kota Makassar, Rabu pagi (08/09/21).

Merupakan rapat pertama, khusus untuk program rencana Pembuatan Video Profil Pariwisata Kabupaten Soppeng. Sekaligus rapat kedua untuk kegiatan serupa di tanggal 14 Juli 2021, namun pertemuan itu juga yang perdana membahas Pembuatan Video Profil Pariwisata Kabupaten Tana Toraja.

Rekanan yang sama yakni Kalfin Alloto’dang, Founder PT Liny Jaya Informatika diminta profesional menggarap video dan menjalankan amanah sesuai Surat Perintah Kerja. Di mana diterangkan di dalamnya waktu pelaksanaan serta teknis pekerjaan yang wajib dipatuhi rekanan.

Satu diantaranya telah disepakati terkait hak cipta dari video yang dihasilkan. Rekanan telah diminta sejak pertemuan sebelumnya untuk meyakinkan DisBudPar SulSel atas keaslian konten video, audio maupun foto dan naskah serta produk akhir dari video profil dimaksud.

“Hak cipta itu harga mati, kami tidak mau nanti ada yang mengklaim video, foto dan semua konten dari video ini. Ini akan menjadi masalah dikemudian hari. Progres pekerjaan sudah sampai dimana, ini sudah masuk di akhir Triwulan ketiga”, tegas Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan Tahun 2021, Irwan S.

Tidak berbeda dengan Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran, Syamsuniar Malik, juga sangat mengharapkan keseriusan rekanan memenuhi permintaan adanya dokumen tertulis pengakuan hak cipta produk serta keseriusan menggarap pekerjaan sesuai alur yang ditetapkan. Dia mengkritik kinerja rekanan yang terkesan tidak profesional, sementara jadwal kegiatan jelas tertuang dalam kontrak kerja sama.

Terlebih pada pertemuan lalu, Kalfin meyakinkan pihak DisBudPar SulSel untuk memenuhi dan menjalankan tiap item persyaratan serta kesepakatan. Bahwa pengambilan gambar akan segera dilaksanakan, pasca itu melakukan ekspose di hadapan pihak DisBudPar SulSel.

Disepakati 3 kali ekspose untuk memperhadapkan kemungkinan revisi video, baik konten, durasi maupun kesesuaian destinasi yang mesti ditonjolkan sebagai unggulan. Berlanjut ekspose keempat ataupun lebih dari itu sebagai finalisasi sebelum melakukan render akhir video dan menempatannya ke dalam media dengan format tertentu sesuai kebutuhan seperti .avi, .mpeg ataupun .mp4.

“Kalau bisa satu bulan itu sudah jadi dan kita lihat hasilnya, minimal ada yang kelihatan, itu yang diekspose untuk kita tonton bersama dan revisi kalau ada kekurangan, tadi kan pak Kalfin katakan pengambilan gambar itu paling lama 4 hari. Profesional bekerja pak, jadi mudah-mudahan secepatnya diselesaikan untuk Tana Toraja karena sekarang ini kita sudah membahas yang Soppeng punya, tana Toraja saja belum beres”, imbuhnya.

Konten-konten yang akan ditampilkan dalam video itu penting untuk diketahui bersama para pihak berkepentingan. Dinas Pariwisata dan Pemerintah setempat harus didengarkan masukannya, destinasi mana saja yang perlu diangkat untuk dipromosikan.

“Maunya kita semua dipromosikan, tapi ada batas durasi ya dan itu juga terkait kebutuhan dan pangsa pasar promosi. Makanya kita minta ada video 7 menit mungkin, lalu ada 3 menit, 30 detik dan juga video khusus tarian 1 sesi, kuliner 1 sesi, ini yang pendek saja untuk kebutuhan pameran. Video lengkapnya di video profil itu pak. Satu hal juga, libatkan kami terutama pemeriksa dan penerima hasil pekerjaan saat turun ke lapangan”, pinta Syamsuniar.

Sikap tidak profesionalisme ditunjukkan rekanan karena tidak melibatkan DisBudPar SulSel dan Dinas Pariwisata di daerah yang akan menggunakan video itu nantinya. Tim yang berkolaborasi diyakini Syamsuniar akan melahirkan video mendekati kesempurnaan, dibanding rekanan jalan sendiri tanpa pengawasan.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung kebijakan pengembangan kepariwisataan di Sulawesi Selatan, jadi penting kita hadir mengerjakan bersama sesuai peran yang ada. Kita harapkan otuputnya, dilampirkan file master. Konten-konten dari video original dan terbaru, jangan caplok milik orang lain. Untuk hasilnya itu, kami terima dalam bentuk Hard Disk Drives (HDD) atau Solid State Disk (SSD) dan juga Compact Disk (CD)”, terangnya.

Mengulang dan mempertegas permintaan khusus Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata (SDP), Bruno S Rantetana pada pertemuan bulan Juli lalu. Bruno kala itu membeberkan kejadian yang pernah menimpa institusi itu beberapa tahun silam yang mana berujung dengan berproses hukum.

Kembali Syamsuniar mewanti-wanti rekanan agar membantu DisBudPar SulSel dalam menjalankan dan mentaati aturan terkait Pengadaan Barang dan Jasa. Kelanjutan Pembuatan Video Profil Pariwisata Kabupaten Tana Toraja sengaja diangkat dan ditegaskan sebagai warning (peringatan) agar rekanan tidak main-main.

Sesi rapat pertama yang sedianya untuk membahas Pembuatan Video Profil Pariwisata Kabupaten Soppeng itu pada akhirnya menuai kritik dan masukan dari jajaran DisBudPar SulSel lainnya yang juga hadir pagi itu. Kalfin sendiri cukup tenang menanggapi dan merespon masukan.

Dirinya menjelaskan detail alur pembuatan video mulai pengambilan gambar hingga editing. Sedangkan untuk konten sendiri, dia meyakinkan akan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Soppeng.

“Jangan sampai penarinya sedang menari di luar atau untuk kuliner tukang masaknya tidak ada. Jadi kami minta nomor kontaknya, lewat Ibu mungkin kami akan hubungi kapan jadwal pengambilan gambar”, harapnya.

Kalfin juga menyikapi permintaan Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Soppeng, Hj Andi Darmi agar memasukkan destinasi yang baru di Soppeng. Namun begitu, konten mana saja akan diangkat, masih perlu dibahas lebih lanjut.

“Kita ada destinasi wisata Titik Nol di Soppeng, ini mungkin belum banyak yang tahu, jadi bisa dimasukkan di video ini. Untuk profil kebudayaan, seharusnya dihadirkan juga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng di tempat ini karena di Soppeng tidak satu paket (satu OPD yang sama)”, tutur Darmi.

Sedangkan visualisasi profil pariwisata yang ditargetkan DisBudPar SulSel berupa atraksi unggulan, semisal seight seeing panorama alam, panorama buatan manusia maupun event yang menarik dan potensial dijual ke ragam tourism market. Begitu pula potensi amenitas penunjang pariwisata seperti hotel, restoran/rumah makan, ATM dan pasar.

Tak hanya itu, aksesibilitas juga ditampilkan, diantaranya ketersediaan dan layanan terminal, bandara serta akses transportasi lainnya. Ketiga unsur utama pariwisata itu point penting dan tak terpisahkan satu sama lain. (*)