Berislam Jangan Ikuti Seleramu

 

Ceramah malam ke-8 Ramadhan 1442 H.
Mirajuddin Nurdin menyampaikan ceramahnya di Masjid Nurut Tarbiyah Makassar (19/04/21).

AMBAE.co.idMakassar. Ramadhan 1442 Hijriyah memberi berkah tersendiri bagi umat Islam. Setidaknya ada suasana berbeda yang mulai nampak mendekati kehidupan normal.

Hal itu sejalan dengan mulai dilonggarkannya jama’ah untuk dapat menunaikan Shalat Sunnah Tarwih dan Shalat Sunnah Witir berjama’ah di Masjid, Mushallah ataupun Surau. Begitupun Shalat Fardhu 5 kali sehari semalam.

Namun begitu, Ustadz Mirajuddin Nurdin menegaskan agar jama’ah tidak larut dengan selera hidupnya dalam memahami Islam. Tidak mengikuti keinginannya dan kepentingannya semata, karena ada aturan mengikat yang harus ditaati dan dijalankan.

Tertuang jelas di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, hal mana yang menjadi perintah dan larangan. Sepatutnya, umat Islam mengikuti perintah dan menjauhi serta meninggalkan segala yang dilarang.

“Kita ber-Islam jangan meyesuaikan selera kita, lalu kita mengabaikan keinginan, perintah Allah Swt”, tegas dia dalam ceramahnya di Masjid Nurut Tarbiyah di Jalan Gunung Batu Putih Nomor 1, Kota Makassar pada Senin (19/04/21).

Dalam berbagai kesempatan dirinya kerap mendapati jenazah dishalati di Masjid. Tatkala akan dishalati, bisa dihitung dengan jari jumlah jama’ah yang ikut shalat jenazah.

Read:  Buka Seminar Nasional Pandu Digital, Bupati Jeneponto: Medsos Bukan Untuk Hoax

Apalagi harus shalat fardhu sebelum shalat jenazah ditunaikan. Sedangkan pada sisi luar Masjid, didapatinya ada ratusan hingga ribuan orang yang menunggu jenazah usai dishalati untuk selanjutnya diantar menuju pemakaman.

“Saya seringkali melihat jenazah cuma dishalati beberapa orang saja. Di luar Masjid, berkerumun orang mengantar, menunggu jenazah dishalati, bahkan ada juga keluarganya, padahal Ayahnya, Ibunya dishalati di dalam Masjid”, jelasnya.

Perilaku demikian menurutnya, sudah melenceng dari ajaran agama. Hanya mengikuti selera, memaknai agama setengah-setengah dan menenggelamkan diri ke dalam dunia yang serba berkemajuan.

Read:  Wabup Sahabuddin Tandem Karim Bagada Bersafari Ramadhan di Kecamatan Sinoa

Bukankah manusia kata Mirajuddin, dikategorikan bersaudara dengan setan tatkala sikap dan perilakunya tidak sesuai apa yang diajarkan Islam. Begitu pula mereka yang mubasir, menyantap makanan dan juga minuman yang pada akhirnya menyisakan dalam jumlah yang banyak.

Padahal makanan sisa itu akan lebih bermanfaat jika masing-masing orang menyantapnya sesuai porsinya. Serta merta akan menjauhkan dari sifat mubasir.

“Mubasir itu sering kita lihat kalau ada pesta, orang ambil nasi berlebihan, selesai pesta, sisa makanan bisa sekarung banyaknya. Ada juga yang membiasakan makan dan minum berdiri, terus makan dan minum dengan tangan kiri, ini juga tidak sesuai Islam”, tuturnya.

Dikatakan lebih lanjut dalam ceramah bertemakan “Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 208”, pernah suatu waktu Rasulullah Muhammad SAW tersenyum melihat sahabatnya yang sedang makan. Rupanya di sisi sahabat itu, ada jin yang ikut makan.

Read:  Bantaeng Run 10 K 2019, Benarkah Jabir Lebih Hebat dari Thomas?

Manakala ditanya sahabat lainnya, Rasulullah SAW menjawab, orang itu tidak membaca Basmalah sebelum makan. Berlalu sesaat, Rasulullah SAW semakin tersenyum, dilihatnya jin itu muntah-muntah di samping sahabat yang sedang makan.

Sahabat dimaksud mengingat untuk membaca Basmalah di tengah dirinya bersantap. Mirajuddin mengatakan di hadapan jama’ah Tarwih, umat Islam sejatinya harus mengawali setiap aktifitas dengan ucapan “Bismillahir Rahmanir Rahim”. (*)